PEMUDA DAN AYAHNYA YANG MENJADI KELEDAI
Abdullah al-Mubarok keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji. Di sana ia
melihat seorang pemuda selalu membaca solawat di setiap tempat dan waktu.
“Anak muda, setiap tempat ada bacaannya sendiri. Kenapa engkau membaca solawat
saja?” Tanya al-Mubarok.
“Wahai Tuan, saya
meninggalkan Khurasan untuk menunaikan haji bersama ayah saya. Ketika sampai di
Kufah, tiba-tiba ayah saya sakit keras lalu meninggal. Dengan kain yang ada, saya tutupi wajahnya. Saat saya buka, rupa wajah ayah saya telah menjadi keledai. Saya malu, bagaimana saya memberitahu
orang-orang tentang kematian ayah saya sedangkan wajahnya buruk sekali? Saya
terduduk di sisi jenazahnya dalam kebingungan.
Akhirnya saya tertidur dan bermimpi. Seorang pria tampan dan
bersinar menghampiri saya seraya berkata, “Mengapa kamu gelisah?”
"Bagaimana tidak, ayah saya orang yang paling saya sayangi, sementara keadaannya buruk?" Jawab saya.
Pria itu pun mendekati ayah
saya, mengusap wajahnya dan seketika berubah kembali ke sediakala. Saya
segera mendekati ayah saya dan melihat ada cahaya dari wajahnya seperti bulan
purnama.
“Engkau siapa?” Tanya saya kepada pria yang baik itu.
“Saya al-Musthofa (Muhammad).” Jawab pria tersebut.
Saya lantas memegang jarinya dan berkata, “Wahai Rasulullah, beritahulah saya dengan yang terjadi!”
“Ayahmu seorang pemakan harta riba.
Allah telah menetapkan balasannya yaitu wajahnya menjadi wajah keledai.
Tapi karena ayahmu selalu membaca solawat sebanyak seratus kali sebelum tidur,
maka aku memohon kepada Allah agar Dia mengizinkanku memberi
syafaat kepadanya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar